Jumat, 18 Januari 2019

ANALISIS KUALITAS SPERMA DAN PENGAMATAN HISTOLOGI TESTIS PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)


LAPORAN PRAKTIKUM
SPERMATOLOGI
“ANALISIS KUALITAS SPERMA DAN PENGAMATAN HISTOLOGI TESTIS PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)”

oleh:
Nama  : Septiawan Putranto
NIM    : 186090100111018



PROGRAM MAGISTER BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

LAPORAN PRAKTIKUM
SPERMATOLOGI
“ANALISIS KUALITAS SPERMA”

oleh:
Nama  : Septiawan Putranto
NIM    : 186090100111018


PROGRAM MAGISTER BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018


KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Shalawat dan salam tak lupa kita junjungkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju kejaman yang terang benderang.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampu mata kuliah dan pembimbing praktikum laboratorium. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan semoga Allah menerima dan meridhoi segala apa yang sudah di kerjakan dan semoga amal baiknya di nilai sebagai ibadah disisi Allah SWT. Amin
Saran, masukan maupun kritik dari pembaca sangat diharapkan agar pada edisi berikutnya dapat menjadi lebih baik. Akhir kata, laporan praaktikum spermatologi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh sivitas akademika Jurusan Biologi Fakultas MIPA maupun pembaca lainnya.

Malang, 7 Desember 2018

Penulis








DAFTARISI

COVER......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I: PENDAHULUAN.......................................................................... 1
1.1  Latar Belakang............................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah.......................................................................... 1
1.3  Tujuan............................................................................................ 1
1.4  Manfaat..........................................................................................
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 2
2.1 Kerangka Konsep.........................................................................
2.2 Hipotesis.......................................................................................
BAB III: METODE PENELITIAN........................................................... 6
3.1  Waktu dan Tempat........................................................................ 6
3.2  Alat dan Bahan.............................................................................. 6
3.3  Langkah Penelitian........................................................................ 6
3.4  Analisis Data..................................................................................
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN................................................... 7
4.1  Hasil Pengamatan.......................................................................... 7
4.2  Analisis Prosedur........................................................................... 8
4.3 Pembahasan................................................................................... 8
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN.................................................... 10
5.1  Kesimpulan.................................................................................... 10
5.2  Saran.............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Infertilitas adalah tidak tercapainya kehamilan dari pasangan yang telah berhubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat dan metode kontrasepsi apapun setelah menikah selama 12 bulan atau lebih. Banyak faktor yang mempengaruhi infertilitas, sehingga banyak pasangan tidak memiliki anak disebabkan infertilitas. Terdapat hampir 50 juta pasangan di suluruh dunia pada tahun 2010 yang mengalami masalah infertilitas dan 50% dianatarnya disebabkan faktor dari pria. Penelitian pada tahun 2000 di indonesia 3-4,5 juta dari 30 juta pasangan usia subur mengalami infertilitas. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan infertilitas pada pria, dapat disebabkan oleh gangguan spermatogenesis, kelainan pada testis atau di luar testis, gangguan pada transportasi sperma akibat kelainan anatomi dari saluran-saluran yang dilewati sperma. Faktor lainnya yaitu perubahan gaya hidup, radiasi, faktor psikologis, faktor genetik, dan lain-lain.
Spermatozoa ( sperma) yang normal memiliki kepala dan ekor, di mana kepala mengandung materi genetik DNA, dan ekor yang merupakan alat pergerakan sperma. Sperma yang matang memiliki kepala dengan bentuk lonjong dan datar serta memiliki ekor bergelombang yang berguna mendorong sperma memasuki air mani. Kepala sperma mengandung inti yang memiliki kromosom dan juga memiliki struktur yang disebut akrosom. Akrosom mampu menembus lapisan jelly yang mengelilingi telur dan membuahinya bila perlu. Sperma diproduksi oleh organ yang bernama testis dalam kantung zakar. Hal ini menyebabkan testis terasa lebih dingin dibandingkan anggota tubuh lainnya. Pembentukan sperma berjalan lambat pada suhu normal, tapi terus-menerus terjadi pada suhu yang lebih rendah dalam kantung zakar.
Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium. Selain itu juga terdapat sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Sel Leydig berfungsi menghasilkan testosteron.
Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid. Spermatid berdeferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP (Androgen Binding Protein) testosteron tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hiposis agar menghentikan sekresi FSH dan LH. Kemudian spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar Cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa. Pada laki-laki, spermatogenesis terjadi seumur hidup dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat.
Pada akhir proses, terjadi pertumbuhan dan perkembangan atau diferensiasi yang rumit, tetapi bukan pembelahan sel, yaitu mengubah spermatid menjadi sperma yang fungsional. Nukleus mengecil dan menjadi kepala sperma, sedangkan sebagian besar sitoplasma dibuang. Sperma ini mengandung enzim yang memegang peranan dalam menembus membran sel telur.
1.2  Rumusan Masalah
Bagaimana cara analisis kualitas sperma?
1.3  Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui cara analisis kualitas sperma.
1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat setelah melaksanakan praktikum ini adalah agar dapat membantu pembaca, mahasiswa, dan peneliti biologi mempelajari dan mengetahui cara analisis kualitas sperma dengan peran dan struktur jaringan penyusun sistem genital maskulin seperti jaringan penyusun epididimis dan testis, serta normalitas, viabilitas, dan abnormalitas sperma.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Konsep
Secara skematis konsep penelitian digambarkan sebagai berikut:
Analisis kualitas sperma
 

         
Terdapat variasi kualitas sperma (normalitas, viabilitas, abnormalitas)
Menganalisis kualitas sperma tikus

Pengamatan variasi kualitas sperma
Sperma dari caudal epipidimis kanan

 








2.2 Hipotesis
Adanya variasi pada kualitas sperma mulai dari normalitas, viabilitas, dan abnormalitas.








BABA III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Hari, Tanggal          : Jum’at, 16 November 2018
Waktu                     : 13.00 - selesai WIB
Tempat                    : Laboratorium BIOMOL
3.2 Alat dan Bahan
a. Alat
- Mikroskop
- Pipet tetes
- Cawan petri
- Kaca preparat
- Hemositometer
b. Bahan
- Sperma tikus
- Aquades
- Eosin
- PBS/NCl
3.3 Langkah Penelitian
- Menyediakan testis tikus
- Mengambil caudal epididimis tikus
- Dilarutkan dengan NCl 0,9 % = 2 ml
- Dicacahi/disayat
- Diambil menggunakan pipet
- Diteteskan pada pipet dibawah mikroskop dengan pengambilan 10 µl sperma
3.5  Analisis Data
Data-data hasil pengamatan akan dianalisis dan dihitung dengan menggunakan rumus menghitung konsentrasi dan rumus abnormalitas.
Menghitung Abnormalitas
Jenis sperma yang mengalami abnormal bisa dilihat dari kepala, leher, dan ekor dengan struktur morfologi yang tidak sempurna.
Untuk menghitung atau mendapatkan data sperma abnormalitas, bisa dilakukan dengan rumus:
Menghitung Konsentrasi
Menghitung konsentrasi tidak harus yang hidup, akan tetapi menghitung konsentrasi dapat dilakukan pada sperma baik yang hidup atau yang mati.
sel absolut   = BP x FP x ∑ sel x 104

















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Sperma diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x10. Pengukuran sperma dilakukan dengan menggunakan hemositometer. Adapun jumlah total sperma yang telah dukur dan yang terhitung adalah 420, jumlah total sperma yang abnormalitas adalah 127, dan jumlah sperma yang viabilitas 212. Motilitas dapat dilihat dari beberapa lapang pandang (4 – 5%), dan motilitas pada penelitian ini mencapai 30%.
Normalitas
Viabilitas
Abnormalitas

Gambar 1: Hasil pengamatan kualitas sperma secara normalitas, viabilitas, dan abnormalitas
Menghitung Konsentrasi
Menghitung konsentrasi tidak harus yang hidup, akan tetapi menghitung konsentrasi dapat dilakukan pada sperma baik yang hidup atau yang mati.
Tabel 1: jumlah dan lokasi keberadaan sperma pada kaca pengamatan




2




2




6




3




3


sel absolut   = BP x FP x ∑ sel x 104
                                = 5 x 50 x 16 x 104
                        = 4000 x 104
                                = 107 / ml (1 jt sel / ml)
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, jumlah total sperma yang telah dukur dan yang terhitung adalah 420, jumlah total sperma yang abnormalitas adalah 127, dan jumlah sperma yang viabilitas 212. Motilitas dapat dilihat dari beberapa lapang pandang (4 – 5%), dan motilitas pada penelitian ini mencapai 30%.
Semen segar yang digunakan pada penelitian ini merupakan hasil dari koleksi spesimen praktikum/riset di Laboratorium BIOMOL.
            Hasil penelitian semen secara mikroskopis disajikan pada gambar 1. Gerakan massa sperma dinilai berdasarkan kecendrungan sperma bergerak ke satu arah yaitu +++ menunjukkan semen segar yang digunakan masih baik. Toelihere (1993) menjelaskan bahwa kualitas semen tergolong sangat baik jika gerakan massa spermatozoa (+++) terlihat gelombang-gelombang besar, banyak, gelap, tebal dan aktif bagaikan gumpalan awan hitam yang bergerak cepat berpindah-pindah, dan tergolong baik jika gerak massa spermatozoa (++) apabila terlihat gelombang-gelombang kecil, tipis, kurang jelas, dan bergerak lamban sedangkan gerakan individu mencerminkan daya hidup sperma dengan rata-rata yang berguna untuk menilai fertilitas pejantan dengan rata-rata yaitu 80%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa rata-rata motilitas semen segar sapi masih baik. Salisbury dan Denmark (1985) menjelaskan bahwa persentase gerakan individu minimal 70% semen segar dikatakan normal apabila semen tersebut mengandung spermatozoa yang memperlihatkan daya gerak aktif dan gerakan bergelombang dan konsentrasi semen segar sapi bali 1000 juta sel sperma / ml semen.
Penurunan persentase hidup spermatozoa terjadi disaat penambahan level NaCl yang makin tinggi, hal ini menunjukkan bahwa daya tahan hidup spermatozoa sangat baik. Dikatakan viabilitasnya bagus karena dibutuhkan konsentrasi larutan NaCl yang tinggi untuk bisa mematikan sel spermatozoa namun penurunan persentase hidup ini belum mencapai 0% karena kemungkinan NaCl juga merupakan larutan yang isotonis dengan plasma darah.
Dari hasil uji abnormalits sperma, jumlah sperma yang abnormal adalah sebanyak 127 sperma, jumlah total sperma sebanyak 420 sperma, dan dikalikan dengan 100% sehingga menghasilkan  persentase abnormalitas sebanyak 0,3023%.
Hasil uji konsentrasi, sperma yang diamati dibawah mikroskop dengan perhitungan menggunakan kaca benda terhitung; jumlah sperma yang berada pada baris dan kolom bagian pertama 1 yaitu sebanyak 3 sperma, jumlah sperma pada baris dan kolom yang ke 2 yaitu sebanyak 3 sperma, jumlah sperma pada baris yang ke 3 yaitu sebanyak 6 sperma, jumlah sperma pada baris yang ke 4 yaitu 2 sperma, dan jumlah sperma pada baris yang ke 5 yaitu sebanyak 2 sperma. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi sperma berbeda-beda dan bervariasi.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil uji abnormalits sperma, jumlah sperma yang abnormal adalah sebanyak 127 sperma, jumlah total sperma sebanyak 420 sperma, dan dikalikan dengan 100% sehingga menghasilkan  persentase abnormalitas sebanyak 0,3023%.
Hasil uji konsentrasi, sperma yang diamati dibawah mikroskop dengan perhitungan menggunakan kaca benda terhitung; jumlah sperma yang berada pada baris dan kolom bagian pertama 1 yaitu sebanyak 3 sperma, jumlah sperma pada baris dan kolom yang ke 2 yaitu sebanyak 3 sperma, jumlah sperma pada baris yang ke 3 yaitu sebanyak 6 sperma, jumlah sperma pada baris yang ke 4 yaitu 2 sperma, dan jumlah sperma pada baris yang ke 5 yaitu sebanyak 2 sperma. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi sperma berbeda-beda dan bervariasi.
5.2 Saran
Untuk melengkapi dan menyempurnaan laporan ini, penulis mengharapkan saran agar kedepannya lebih baik lagi.











LAPORAN PRAKTIKUM
SPERMATOLOGI
“PENGAMATAN HISTOLOGI TESTIS PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)”

oleh:
Nama  : Septiawan Putranto
NIM    : 186090100111018


PROGRAM MAGISTER BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018


KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Shalawat dan salam tak lupa kita junjungkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju kejaman yang terang benderang.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampu mata kuliah dan pembimbing praktikum laboratorium. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan semoga Allah menerima dan meridhoi segala apa yang sudah di kerjakan dan semoga amal baiknya di nilai sebagai ibadah disisi Allah SWT. Amin
Saran, masukan maupun kritik dari pembaca sangat diharapkan agar pada edisi berikutnya dapat menjadi lebih baik. Akhir kata, laporan praaktikum spermatologi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh sivitas akademika Jurusan Biologi Fakultas MIPA maupun pembaca lainnya.

Malang, 7 Desember 2018

Penulis








DAFTARISI

COVER......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1  Latar Belakang............................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah.......................................................................... 1
1.3  Tujuan............................................................................................ 1
1.4  Manfaat..........................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 2
2.1 Kerangka Konsep.........................................................................
2.2 Hipotesis.......................................................................................
BAB III METODE PENELITIAN............................................................
3.1  Waktu dan Tempat........................................................................
3.2  Alat dan Bahan..............................................................................
3.3  Langkah Penelitian........................................................................
3.4  Analisis Data..................................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................
4.1  Hasil Pengamatan..........................................................................
4.2  Analisis Prosedur...........................................................................
4.3 Pembahasan...................................................................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................
5.1  Kesimpulan....................................................................................
5.2  Saran..............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sistem genitalia merupakan alat reproduksi yang mempunyai peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Sistem genitalia dibedakan menjadi dua bagian yaitu genitalia maskulin dan genitalia feminin. Sistem genitalia maskulin terdiri atas testis, saluran, kelenjar dan bagian eksterna. Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang tebal (tunika albugenia) dan lapisan peritonium tunika vaginalis viseralis, yang berupa jaringan ikat kolagen yang miskin vasa darah dan elemen elastis. Tunika albugenia kaya akan vaskularisasi (stratum vaskuler). Testis, terdapat tubulus seminiferus yang dibungkus jaringan ikat halus (sel intertestial). Dinding tubulus seminiferus terdiri dari sel epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu : Sel penyokong dan sel spermatogenik. Sel penyokong disebut sel sustentakulum atau sel sentroli, sedangkan sel spermatogenik dibagi menjadi beberapa berdasarkan morfologinya yaitu : spermatogonia, spermatosit primer dan sekunder, spermatid dan spermatozoa. Sel sertoli melekat pada lamina basalis dan sel spermatogenik dekat dengan lumen (Hurkat, 1976 ).
Sel sertoli berfugsi untuk melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Sel sertoli yang tampak mengalami mitosis, tetapi lebih tahan terhadap panas, radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik. Spermatogonia terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Sel Interstitial atau sel leydig merupakan jaringan ikat halus yang membungkus testis, berisi serabut saraf. Fungsi sel leydig yaitu : mengatur aktivitas kelenjar prostat, memelihara tanda khas jantan dan mengatur aktivitas spermatogenesis yang dibantu oleh hormon FSH dan Hipofisis (Junqueira, 1995).
1.2  Rumusan Masalah
Bagaimana cara mengamati dan memahami struktur histologi dari organ reproduksi jantan pada testis tikus putih (Rattus norvegicus)?


1.3  Tujuan Penelitian
Praktikum ini bertujuan untuk mengamati dan memahami struktur histologi dari organ reproduksi jantan pada testis tikus putih (Rattus norvegicus)
1.4  Manfaat Penelitian
Manfaat setelah melaksanakan praktikum ini adalah agar dapat membantu pembaca, mahasiswa, dan peneliti biologi mempelajari peran dan struktur jaringan penyusun sistem Genital Maskulin dan Feminin seperti jaringan penyusun epididimis, teatis, serta ovarium dan dapat dimanfaatkan dalam riset mengenai patohistologi.



























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Saluran terdiri atas Tubuli rekti, Rete testis (terdapat dalam testis), Duktuli Efferentes Testis, Duktus epididimis (terdapat dalam epididimis), Duktus deferens, Urethra (pars pelvina dan pars penis). Tubuli rekti berupa saluran pendek pada lobuli testis dengan epitel kubus selapis pada membrana basalis. Rete testis berupa saluran atau rongga yang saling berhubungan dalam mediastinum testis, terdiri epitel pipih selapis dan pembuluh darah serta saraf. Duktuli efferentes memiliki epithel silindris sebaris dengan dua macam sel, yakni : sel basilia (kinocilia) dan sel tanpa silia dengan banyak butir sekreta di dalamnya, sel ini menunjukkan aktivitas bersekresi. Sekreta dari sel berperan dalam proses pendewasaan dari spermatozoa dalam epididimis. Epididimis atau anak buah pelir, secara anatomis terdiri atas caput, korpus dan kauda epididimis. Epididimis terdiri atas jaringan ikat tunika albuginea sebagai stroma dengan mengandung otot polos yang didalamnya terdapat saluran yang merupakan parenkhim, yakni duktulis efferentes dan duktus epididimis. Fungsi epididimis : Menyimpan sementara spermatozoa. Duktus Deferens berupa saluran tunggal yang keluar dari kauda epididimis. Duktus deferens dibagi menjadi dua bagian, yakni : bagian yang tidak berkelenjar (Duktus deferens) dan bagian yang berkelenjar (Ampulla). Funikulus Spermatikus berbentuk buluh, dibalut oleh peritonium, didalamnya terdapat duktus deferens, pembuluh darah, saraf dan berkas otot polos.Uretra mempunyai ukuran yang cukup panjang, berdasarkan letaknya dibagi menjadi Uretra pars prostatika, uretra pars pelvina dan uretra pars penis (Adnan, 2006).
Kelenjar Asesorius (Glandula genitales asesorius) mempunyai ciri-ciri : Kelenjar bermuara pada uretra, bagian stroma (kapsula jaringan ikat interstitial, trabekula, septa) sering terdapat otot polos, kontraksi otot tersebut dapat mendorong skreta, khususnya pada proses ejakulasi dan Kelenjar berbentuk tubulus bercabang dengan lobulasi cukup jelas, bagian ujung kelenjar yang meluas membentuk sinus koligentes sebagai penampang sekreta. Kelenjar asesorius dibagi menjadi empat yaitu : ampula, vesibulares, prostat dan bulbo uretralis. Bagian eksternal terdiri atas penis, prepusium dan skrotum. Penis dapat dibagi atas korpus dan glans. Korpus penis terdiri atas : Jaringan erektil korpus kavernosum penis, uretra yang dikelilingi oleh korpus kavernosum uretrae, muskuli bulbo-kavernosus dan retraktor penis. Prepusium terdiri atas dua bagian yakni : Bagian exsternal yang merupakan kelanjutan dari kulit abdomen disebut : Pars parietalis dan pars viseralis, keduanya bertemu pada orifisium preputi. Pars parietalis terlipat kedalam dan ke muka pada forniks dan menutup ujung penis sebagai pars viseralis. Skrotum terdiri atas integumentum kommunis dan tunika dartos. Kulit skrotum lebih tipis, rambut lebih sedikit dan kaya akan glandula. Terdapat glandula sebasea dan glandula kulit tubuler. Tunika dartos terdiri atas berkas otot polos yang arahnya tidak teratur serta serabut kolagen dan elastis (Bresnick, 2003).
2.1 Kerangka Konsep
Secara skematis konsep penelitian digambarkan sebagai berikut:
Analisis kualitas sperma
 

         
Terdapat variasi kualitas sperma (normalitas, viabilitas, abnormalitas)
Menganalisis kualitas sperma tikus

Pengamatan variasi kualitas sperma
Sperma dari caudal epipidimis kanan

 

















BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Hari, Tanggal          : Jum’at, 23 November 2018
Waktu                     : 13.00 - selesai WIB
Tempat                    : Laboratorium BIOMOL
3.2 Alat dan Bahan
- Testis
- Mikroskop
- Kaca benda
- Eosin
- Pipet tetes
- Cawan petri
3.3 Langkah Penelitian
- Mengambil testis tikus
- Diletakkan di cawan petri
- Disayat
- Diberikan pewarna eosin
- Diambil dengan pipet tetes dan diletakkan di kaca benda
- Diamati dibawah mikroskop dan dianalisis dengan aplikasi
3.4 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan aplikasi dan literatur yang telah didiskusika dengan asisten alboratorium.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan, pada gambar 1 dan gambar 2 adalah tampang pengamatan setelah perlakuan dan setelah dikalibrasi.




Gambar 1: Tampang pengamatan setelah perlakuan
Kalibrasi 200x
Kalibrasi 400x
Gambar 2: kalibrasi

4.2 Analisis Prosedur
- Menyediakan alat dan bahan
- Diberikan perlakuan
- Diamati dengan mikroskop
- Dan dianalisis dengan menggunakan aplikasi Optilab Advice.
4.3 Pembahasan
     Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat penampang melintang epididimis pada perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian epididimis seperti stereocilia, epitel pseudostratified columnar ciliated, fibre muscle, spermatozoa dan lamina propia. Lumen epididymis hanya dilapisi oleh satu macam sel yaitu sel berambut silia yang tidak bergerak, karena silianya tidak bergerak maka sel-sel ini disebut stereo silia. (Sukra, 2000). 
Epididymis merupakan pipa panjang dan berkelak-kelok yang menghubungkan vasa eferensia pada testis dengan ductus deferens (vas deferens). Epidydimis berperan sebagai tempat untuk pemasakan spermatozoa sampai pada saatspermotozoa dikeluarkan dengan ejakulasi (Frandson,1992). 
Spermatozoa bergerak dari tubulus seminiferus lewat ductus deferens menuju ke kepala epididymis. Spermatozoa belum masak ketika meninggalkan testikel dan harus mengalami periode pemasakan di dalam epididymis sebelum mampu membuahi ovum. (Blakely dan David,1998). 
Menurut Wahyuni (2012) Epididymis merupakan saluran spermatozoa yang panjang dan berbelit, terbagi atas kaput, korpus, dan kauda epididimidis, melekat erat pada testis dan dipisahkan oleh tunika albugeni. Organ tersebut berperan penting pada proses absorpsi cairan yang berasal dari tubuli seminiferi testis, pematangan, penyimpanan dan penyaluran spermatozoa ke duktus deferens sebelum bergabung dengan plasma semen dan diejakulasikan ke dalam saluran reproduksi betina.
Epididymis mempunyai empat fungsi utama yaitu pengankutan atau transportasi, konsentrasi atau pengen talan maturasi dan penyimpanan spermatozoa. Pengankutan spermatozoa diangkut dari rete testis keductuli efferents testis oleh tekanan cairan didalam testis. Pengentalan spermatozoa dari suspense sperma encer yang berasal dari testis dengan konsentrasi 25.000 sampai 350.000 sel per mm3, air diresorbsi kedalam sel-sel epitel terutama pada caput. Pematangan spermatozoa mungkin dicapai atas pengaruh sekresi dari sel-sel epithel. Spermatozoa dari bagian cauda epididymis telah memiliki kemampuan membuahi oosit yang sama baiknya dengan spermatozoa hasil ejakulasi. Penyimpanan terjadi di cauda Epididymis. Konsentrasi spermatozoa sangat tinggi dan lumuen ductus tersebut relative lebih luasSetengah dari jumlah spermatozoa disimpan didalam cauda yang membentuk seperempat dari panjang saluran epididymis. Waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan spermatozoa melalui epididymis bervariasi dan tergantung pada kondisinya tetapi mungkin tidak kurang dari 14 hari pada semua golongan hewan (Feradis,2010).
Sel sertoli berfugsi untuk melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Sel sertoli yang tampak mengalami mitosis, tetapi lebih tahan terhadap panas, radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik. Spermatogonia terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Sel Interstitial atau sel leydig merupakan jaringan ikat halus yang membungkus testis, berisi serabut saraf. Fungsi sel leydig yaitu : mengatur aktivitas kelenjar prostat, memelihara tanda khas jantan dan mengatur aktivitas spermatogenesis yang dibantu oleh hormon FSH dan Hipofisis (Junqueira, 1995).
Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat penampang melintang testis pada perbesaran 400X terlihat adanya bagian-bagian testis seperti tunika albuginia, sel leydig, lamina propia, spermatozoa, spermatid, spermatogonium (2n), sel sertoli, spermatosit primer dan spermatosit sekunder.
Di bawah kulit scrotum terdapat tunica dartos, suatu selubung yang terdiri dari jaringan fibroelastik dan otot licin. Di bagian tengah (sepanjang raphe scroti) membentuk septum scroti yang memisahkan scrotum dalam sebuah kantong yang terpisah. Lapisan berikutnya dalah tunica vaginalis communis suau fascia scrotalis tebal berwarna putih yang mengelilingi ke dau tengahan scrotum secara terpisah, dan di bagian tengah di selubungi oleh lapisan parietal, processus vaginalis, suatu evaginasi dari peritonium (Feradis,2010).
Skrotum dengan otot–otot licinnya, lapisan fibrosa dan kulit berfungsi menunjang dan melindungi testes dan epididymis dan mempertahankan suhu yang lebih rendah daripada suhu badan yang diperlukan agar spermatogenesis berlangsung secara normalSuhu testes 5 sampai 6oc di bawah suhu badan. Terdapat mekanisme yang berbeda yang bekerja secara terpisah sehingga pengaturan suhu tersebut dapat berhasil. Suhu dingin, otot-otot cremaster dapat menarik scrotum sehingga suhu testes dapat dipertahankan hangat. Pada suhu panas otot tersebut mengendur dan testes turun menjauhi tubuh sehingga memungkinkan pelepasan panas hingga suhu testes menjadi lebih dingin. Otot lain yaitu tunica dartos yang mengelilingi kulit scrotum dapat mengerut atau mengendorkan permukaan scrotum dan hal ini akan memperluas permukaan scrotum sehingga mempengaruhi kecepatan hilangnya panas (Feradis,2010).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Sistem genitalia merupakan alat reproduksi yang mempunyai peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Pada pengamatan sistem genital maskulin yang diamati adalah bagian epididimis dan testis. Pada epididimis memiliki bagian-bagian seperti stereocilia, epitel pseudostratified columnar ciliated, fibre muscle, spermatozoa dan lamina propia, sedangkan testis memiliki bagian-bagian seperti tunika albuginia, sel leydig, lamina propia, spermatozoa, spermatid, spermatogonium (2n), sel sertoli, spermatosit primer dan spermatosit sekunder.

5.2 Saran
Untuk melengkapi dan menyempurnaan laporan ini, penulis mengharapkan saran agar kedepannya lebih baik lagi.


















DAFTAR PUSTAKA

Adnan dan Pagarra, Halifah. 2010. Struktur Hewan. Makassar: Jurusan Biologi
    FMIPA UNM.
Amenta, peter S, 1990. Histologi dan Embriologi. Bandung: ITB.
Bevelander, Gerrit. 1988. Dasar–Dasar Histologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Betibops.2014.http://www.histology.world.com/photoalbum/displayimage.php?album=59&pid=3564#top_display_media. Diakses tanggal 6 Desember 2018.
Bresnick, Stephen. 2003. Intisari Biologi. Jakarta: Hipokrates.
Bracegirdle, Brian., Freeman.H.W.1970. An Atlas Histology.
Blakely, J and David.H.Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogjakarta.
Dellman, Dieter, H., and Brown, Esther M. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner, edisi ketiga, hal 108. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Frandson, R.D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.
Hurkat, P. and Mathur. 1976., A Text Book of Animal Physiology. S Chand and Co. Ltd., New Delhi.
Jamilatun.2011.http://jamilatunhidayah.duniakuhidupmu.blogspot.com/2011_12_01_archive.html. Diakses tanggal 6 Desember 2018.
Junquiera, Carlos L., Carnerro Jote, Kelley Robert V. 1995. Histologi Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kumar, Robin. 2002. Ovarium dalam Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Jakarta: EGC.
Lesson paparo, alih bahasa dr Jon Tambayon.1991. Buku ajar Histologi. Buku penerbit  kedokteran EGC : Jakarta.
Sukra, Y. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio ; Benih Masa Depan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta.
Udel.2014.http://www.udel.edu/biology/Wags/histopage/wagnerart/anaglyphpage/anaglyph.html. Diakses tanggal 6 Desember 2018.
Yovita. 2014. http://yovitayudith.blogspot.com/. Diakses tanggal 6 Desember 2018.


PEMBENTUKAN KEPALA SPERMA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA


PEMBENTUKAN KEPALA SPERMA DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Ringkasan Oleh: Septiawan Putranto (186090100111018)
Berbagai jenis anomali kepala-sperma dapat diamati pada pasien dengan teratozoospermia atau oligozoospermia. Kehadiran kelainan tersebut adalah salah satu penyebab utama infertilitas pada laki-laki. Sebelum masuk ke dalam meiosis pertama, sel induk germ-line berproliferasi di tahap spermatogonium, mengalami pembaruan diri sebagai spermatogonia tipe A (A1-A3 pada tikus). Type A spermatogonia berdiferensiasi menjadi spermatogonia tipe B, dan ini pada gilirannya berdiferensiasi menjadi spermatosit primer yang kemudian mengalami meiosis. Sebelum divisi meiosis pertama, spermatosit primer menggandakan DNA / kromosom mereka. Ciri khas dari meiosis pertama adalah rekombinasi genetik; pada tahap ini, kompleks synaptonemal yang mengandung nodul rekombinasi terbentuk pada spermatosit fase pachytene. Segera setelah meiosis (sekitar 8 jam dalam kasus manusia), spermatosit sekunder segera berkembang menjadi spermatid haploid. Dengan demikian, hampir semua molekul / protein yang diperlukan untuk pembentukan kepala-sperma diduga disiapkan pada tingkat gen pada spermatosit primer. Ekspresi gen spermatid disebut sebagai ekspresi gen postmeiotic. Langkah-langkah ini diikuti oleh empat peristiwa besar spermiogenesis: modifikasi nuklir, biogenesis akrosom, pemangkasan sitoplasma, dan pembentukan flagelum. Tiga peristiwa pertama terlibat dalam pembentukan kepala. Pembentukan perm-head dipicu oleh inisiasi acrosome biogenesis selama spermiogenesis. Pembentukan kepala melibatkan biogenesis akrosom, kondensasi nuklir dan elongasi (mendatar), dan pembentukan lapisan sitoplasma. Molekul sitoplasma / zat berakumulasi secara bertahap untuk membentuk teka-teki perinuklear. Beberapa molekul penting ini diangkut sepanjang manchette (manchette adalah struktur mikrotubulus yang terorganisir yang mengikat daerah posterior dari inti spermatid) dan disusun ke dalam berbagai komponen struktural. Organisasi ini terjadi paling aktif dalam memanjang spermatid. Secara khusus, perubahan drastis terjadi dari tahap pertengahan ke tahap akhir spermiogenesis. Sitoplasma yang dilepaskan oleh sel-sel kuman fagositosis oleh sel-sel Sertoli sebelum spermiation. Jadi, sel germinal menghasilkan protein yang penting untuk pembuahan, dan protein ini diorganisasikan ke dalam struktur kepala dan ekor atau komponennya dalam waktu yang sensitif.

Sel-sel kuman mengekspresikan reseptor tyrosine kinase c-kit, yang dihasilkan oleh gen pada lokus W. Ligan untuk reseptor ini adalah ligan c-kit faktor Baja yang merupakan faktor yang berkembang biak atau faktor sel induk (SCF). Sinyal faktor baja dilepaskan oleh sel Sertoli ditransduksi ke mitra c-kit pada sel germinal. Kedua molekul ini diperlukan untuk kelangsungan hidup dan proliferasi tipe A spermatogonia. Jika salah satu gen ini bermutasi atau dihapus secara artifisial, sel-sel germinal tidak ada, dan individu mutan menunjukkan sindrom Sertoli-cell-only.
KESIMPULAN
Berbagai jenis anomali kepala-sperma dapat diamati pada pasien dengan teratozoospermia atau oligozoospermia. Kehadiran kelainan tersebut adalah salah satu penyebab utama infertilitas pada laki-laki. Pembentukan kepala melibatkan biogenesis akrosom, kondensasi nuklir dan elongasi (mendatar), dan pembentukan lapisan sitoplasma. Molekul sitoplasma / zat berakumulasi secara bertahap untuk membentuk teka-teki perinuklear. Beberapa molekul penting ini diangkut sepanjang manchette (manchette adalah struktur mikrotubulus yang terorganisir yang mengikat daerah posterior dari inti spermatid) dan disusun ke dalam berbagai komponen struktural. Secara khusus, perubahan drastis terjadi dari tahap pertengahan ke tahap akhir spermiogenesis. Sitoplasma yang dilepaskan oleh sel-sel kuman fagositosis oleh sel-sel Sertoli sebelum spermiation. Jadi, sel germinal menghasilkan protein yang penting untuk pembuahan, dan protein ini diorganisasikan ke dalam struktur kepala dan ekor atau komponennya dalam waktu yang sensitif.
REFERENSI:
Kiyota Toshimori, 2009. Dynamics Of The Mammalian Sperm Head (modification and maturation events from spermatogenesis to egg activation). Springer-Verlag Berlin Heidelberg. ISSN: 0301-5556, ISBN: 978-3-540-89978-5, e-ISBN 978-3-540-89979-2. Pg: 17-20.


Pembentukan dan Faktor Kepala Sperma yang Mempengaruhinya


BAB III
Pembentukan dan Faktor Kepala Sperma yang Mempengaruhinya
Berbagai jenis anomali kepala-sperma dapat diamati pada pasien dengan teratozoospermia atau oligozoospermia. Kehadiran kelainan tersebut adalah salah satu penyebab utama infertilitas pada laki-laki. Di sini, saya membahas kelainan ini dalam kaitannya dengan spermatogenesis. Sebelum masuk ke dalam meiosis pertama, sel induk germ-line berproliferasi di tahap spermatogonium, mengalami pembaruan diri sebagai spermatogonia tipe A (A1-A3 pada tikus). Type A spermatogonia berdiferensiasi menjadi spermatogonia tipe B, dan ini pada gilirannya berdiferensiasi menjadi spermatosit primer yang kemudian mengalami meiosis (Gambar 3.1 dan 3.2). Sebelum divisi meiosis pertama, spermatosit primer menggandakan DNA / kromosom mereka. Ciri khas dari meiosis pertama adalah rekombinasi genetik; pada tahap ini, kompleks synaptonemal yang mengandung nodul rekombinasi terbentuk pada spermatosit fase pachytene. Segera setelah meiosis (sekitar 8 jam dalam kasus manusia), spermatosit sekunder segera berkembang menjadi spermatid haploid. Dengan demikian, hampir semua molekul / protein yang diperlukan untuk pembentukan kepala-sperma diduga disiapkan pada tingkat gen pada spermatosit primer. Ekspresi gen spermatid disebut sebagai ekspresi gen postmeiotic. Langkah-langkah ini diikuti oleh empat peristiwa besar spermiogenesis: modifikasi nuklir, biogenesis akrosom, pemangkasan sitoplasma, dan pembentukan flagelum. Tiga peristiwa pertama terlibat dalam pembentukan kepala. Pembentukan perm-head dipicu oleh inisiasi acrosome biogenesis selama spermiogenesis. Pembentukan kepala melibatkan biogenesis akrosom, kondensasi nuklir dan elongasi (mendatar), dan pembentukan lapisan sitoplasma. Molekul sitoplasma / zat berakumulasi secara bertahap untuk membentuk teka-teki perinuklear. Beberapa molekul penting ini diangkut sepanjang manchette (manchette adalah struktur mikrotubulus yang terorganisir yang mengikat daerah posterior dari inti spermatid) dan disusun ke dalam berbagai komponen struktural. Organisasi ini terjadi paling aktif dalam memanjang spermatid. Secara khusus, perubahan drastis terjadi dari tahap pertengahan ke tahap akhir spermiogenesis. Sitoplasma yang dilepaskan oleh sel-sel kuman fagositosis oleh sel-sel Sertoli sebelum spermiation. Jadi, sel germinal menghasilkan protein yang penting untuk pembuahan, dan protein ini diorganisasikan ke dalam struktur kepala dan ekor atau komponennya dalam waktu yang sensitif.
Gambar. 3.1 mikrograf Cahaya menunjukkan tahap VII dari spermatogenesis tikus. Sisipan. Sebuah jembatan interseluler (panah) antara spermatogonia. S7 dan S16, langkah 7 dan langkah 16 spermatid, masing-masing; B, tipe B spermatogonium. BL basal lamina. Spermatosit primer PS
3.1 Interaksi Seluler
Berbagai interaksi seluler mempengaruhi proses pembentukan kepala sperma selama spermatogenesis.
3.1.1 Faktor Sel Punca, Faktor Baja, dan Reseptor c-kit
Sel-sel kuman mengekspresikan reseptor tyrosine kinase c-kit, yang dihasilkan oleh gen pada lokus W. Ligan untuk reseptor ini adalah ligan c-kit — faktor Baja — yang merupakan faktor yang berkembang biak atau faktor sel induk (SCF). Sinyal faktor Baja.
Gambar. 3,2 S cheme spermatogenesis, termasuk berbagai faktor yang mempengaruhi spermatogenesis
dilepaskan oleh sel Sertoli ditransduksi ke mitra c-kit pada sel germinal (Gambar 3.3). Kedua molekul ini diperlukan untuk kelangsungan hidup dan proliferasi tipe A spermatogonia (Chabot et al. 1988; Dolci dkk. 1991; Geissler dkk. 1988; Witte 1990). Jika salah satu gen ini bermutasi atau dihapus secara artifisial, sel-sel germinal tidak ada, dan individu mutan menunjukkan sindrom Sertoli-cell-only. Kasus-kasus yang khas dari kondisi ini telah ditunjukkan dalam Sl / Sl d (tikus mutan defisien Baja) (Tajima dkk. 1991) dan tikus W / Wv (tikus mutan defisien c-kit) (Koshimizu et al. 1991; Yoshinaga) et al. 1991). Selain c-kit, tr-kit, sebuah produk gen khusus c-kit postmeiotik, juga dibentuk (Gambar 3.3). Menariknya, tr-kit dilokalisasi di kepala sperma dan telah terbukti terlibat dalam aktivasi telur ketika itu disuntikkan ke dalam sitoplasma oosit tikus yang ditangkap di MII (Sette et al. 1998) (ditinjau dalam Rossi et al. 2003) . Topik ini dibahas secara lebih rinci di bagian aktivasi telur.
Diri
Gambar 3.3 Skema yang menunjukkan domain c-kit dan tr-kit. Digambar ulang setelah modifikasi skema asli yang disajikan oleh Sette et al. (1997)
3.1.2 Jembatan interseluler
Intercellular bridges terbentuk antara sel-sel kuman yang berkembang (Gambar 3, 4 dan 3, 5). Mereka menghubungkan ratusan sel kuman yang berasal dari sel induk tunggal dan berkembang sebagai syncytium besar. Pada tikus (Gambar 3, 4) dan tikus (Weber dan Russell 1987), diameter jembatan yang menghubungkan spermatogonium dilaporkan sekitar
Hal.20

Gambar. 3,4 T EM gambar menunjukkan langkah 6 spermatid dengan nukleus bulat. Perhatikan akrosom dan mengembangkan ekor memanjang dari centriole (panah). Sel-sel kuman yang berdekatan terhubung dengan jembatan interseluler (antara panah). Inset: Sebuah tubuh chromatoid yang bermigrasi (CB) dilokalisasi di jembatan interseluler
Gambar. 3,5 T EM gambar menunjukkan langkah 9 spermatid yang memiliki nuklei memanjang tetapi tidak kental. Perhatikan spesialisasi ektoplasmik apikal (Es dengan panah) yang mengelilingi daerah kepala dan acroplaxomes yang terbentuk di ujung distal acrosome (daerah kotak dan inset). Cincin perinuklear (Pr) yang memancarkan bundel mikrotubulus (yaitu manchette, M) ditunjukkan oleh panah. Inset: Pembesaran yang lebih tinggi dari area persegi panjang (area acroplaxome). Dimodifikasi dari sebuah foto yang ditunjukkan oleh Toshimori dan Ito (2003).

1 μm, dan itu meningkat menjadi sekitar 1,5 μm dalam kasus spermatosit dan 2-3 μm dengan spermatid. Fungsi jembatan untuk komunikasi dan sinkronisasi haploid-sel dan untuk kompensasi dosis-kromosom (Ventelä et al. 2003).
Pentingnya jembatan interseluler telah ditunjukkan pada tikus mutan yang membawa penghapusan gen testis-diekspresikan 14 (TEX14). TEX14 mentransfer mesin c ytokinesis sel somatik ke protein sel germinal lainnya untuk membentuk jembatan intersel yang stabil (Greenbaum et al. 2007). Pada tikus jantan yang mengalami defisiensi TEX14, jembatan interseluler ini tidak terbentuk, dan jalur spermatogenesis ditangkap sebelum menyelesaikan pembelahan meiosis pertama. TEX14 colocalizes dengan kompleks centralspindlin, mitines kinesin-like protein 1 (MKLP1), dan protein TG GTPase-activating protein laki-laki (MgcRac GAP), dan mengubah protein matriks midbody ini menjadi komponen stabil dari jembatan interseluler. Jembatan interseluler terbentuk di bagian tengah dengan cara yang bergantung pada TEX14. Dengan demikian, TEX14 memainkan peran penting dalam pemeliharaan spermatogenesis.
3.1.3 Spesialisasi Ectoplasmik
Ketika domain permukaan-permukaan berkembang dalam spermatid awal yang memanjang, membran plasma sel Sertoli dipertahankan dalam kontak dekat dengan yang menutupi kepala spermatid yang sedang berkembang, di mana spesialisasi ektoplasmik terbentuk. Spesialisasi ektoplasma adalah struktur interaktif spesifik yang terbentuk antara spermatid dan sel Sertoli; itu secara khusus dilokalisasi di kompartemen adluminal tubulus seminiferus (Gambar. 3, 2). Struktur ini yang menjangkar kompartemen adluminal juga disebut sebagai spesialisasi ektoplasmik apikal, berbeda dengan spesialisasi ektoplasmik basal yang berkembang antara sel Sertoli yang berdekatan dan membentuk penghalang darah-testis. Spesialisasi ektoplasmik serta beberapa persimpangan lain yang terbentuk dalam testis telah ditinjau sebelumnya (Mruk dan Cheng 2004a; Yan et al. 2007).
tructural, spesialisasi ektoplasmik apikal terdiri dari organel sitoplasma yang unik yang berasal dari sel Sertoli, serangkaian retikulum endoplasma halus, dan agregat bundel aktin terorganisir ke dalam susunan heksagonal (Gambar 3 .5). Spesialisasi ektoplasma menghadapi akrosom berkembang spermatid selama langkah 9-15 spermatogenesis, sesaat sebelum spermiation. Karena fungsi spesialisasi ektoplasmik dalam mempertahankan spermatogenesis dengan memposisikan daerah kepala berkembang, spermatogenesis mudah dipengaruhi oleh penghapusan gen yang mengkode protein yang berhubungan dengan spesialisasi ektoplasmik. Hal ini telah ditunjukkan pada tikus KO yang kekurangan GOPC (Ito et al. 2004; Toshimori dan Ito 2003; Yao et al. 2002) dan gen yang mengkode protein immunoglobulin-superfamili (IgSF) seperti nectin-2 (Mueller et al. 2003) dan RA175 (Fujita et al. 2006). Bukti terbaru telah menunjukkan bahwa penghapusan gen Rap1 yang mengkodekan tripofosfatase guanosin kecil (GTPase) dari keluarga Ras merusak adhesi sel-sel yang dimediasi oleh VE-cadherin (CD144) pada spesialisasi ektoplasmik. Ini akhirnya menyebabkan pelepasan prematur spermatid dengan kepala cacat yang berbentuk hammer atau ovoid (Aivatiadou et al. 2007). Di sini, saya menyajikan temuan umum penelitian tentang protein dan gen terkait IgSF dan mendiskusikan peran mereka dalam kerusakan pembentukan kepala sperma.
3.2 Protein IgSF
Protein IgSF secara unik diekspresikan pada permukaan sel Sertoli dan sel germinal (Tabel 3.1). Sel ertoli mengekspresikan nektin-2 / CD155, protein IgSF yang diklasifikasikan sebagai molekul adhesi sel. Sel-sel kuman juga mengekspresikan banyak protein IgSF lainnya, yaitu
basigin (BSG), CE9, MC31, IgSF4, RA175, Sg-IGSF, nectin-3, IgSF11, Ly9 / CD150, JAM-C, molekul nektin-seperti 2 (Necl-2), dan BT-IgSF. Saya pribadi telah mempelajari RA175 (Fujita dkk. 2006) dan basigin tikus (Saxena dkk. 2002), yang homolog dengan tikus CE9 (Nehme dkk. 1993; Petruszak dkk. 1991) dan MC31 (Toshimori dkk. 1992b ; Wakayama et al. 2000). IgSF4 adalah molekul adhesi sel yang identik dengan RA175, Sg-IGSF, Necl-2, TSLC1, dan SynCAM1. Protein ini diekspresikan pada permukaan tidak hanya sel germinal tetapi juga banyak sel epitel. Meskipun banyak dari mereka berfungsi sebagai molekul adhesi sel untuk pemeliharaan spermatogenesis, protein IgSF lokal pada spesialisasi ektoplasmik secara khusus terlibat dalam pembentukan kepala sperma.
3.2.1 Protein IgSF Dinyatakan pada Sel Sertoli
 Nektin, protein IgSF, dilokalisasi pada spesialisasi ektoplasmik yang dibentuk oleh sel Sertoli, dan mempengaruhi pembentukan kepala sperma. Nectin-2 (CD155): Nectin-2 dikodekan oleh anggota keluarga gen reseptor poliovirus yang ditemukan pada tikus, monyet, dan manusia. Ini terlokalisasi pada spesialisasi ektoplasmik dan tersebar di mana-mana sebagai komponen dari persimpangan perlekatan sel-sel, di mana ia berinteraksi dengan I-afadin, protein pengikat F-aktin. Hubungan antara daerah-daerah C-terminal nektin dan afadin (termasuk protein aktinbinding) diperlukan untuk perakitan filamen aktin. Nectin-2 dianggap berinteraksi dengan nektin-3 pada sel germinal melalui interaksi trans-dimer heterophilic (Ozaki-Kuroda et al. 2002). Karena spesialisasi ektoplasmik berfungsi sebagai scaffold menstabilkan domain adhesif dari protein yang diekspresikan pada membran plasma sel Sertoli, dianggap untuk mengirimkan sinyal dari sel Sertoli ke sel germinal. Ketika gen nektin-2 dihapus, spesialisasi ektoplasmik tidak teratur dan kelengketannya berkurang karena disfungsi perancah F-aktin atau mislokalisasi afadin. Hal ini akhirnya mempengaruhi spermatogenesis dan menyebabkan teratozoospermia, yang dicirikan oleh spermatozoa dengan kepala dan midpieces yang dideformasi secara acak (Mueller et al. 2003). nektin-2 - / - tikus ditemukan tidak subur, menghasilkan spermatozoa yang lebih sedikit jumlahnya dan berbentuk tidak normal; namun, spermatozoa yang dihasilkan dapat bermigrasi ke saluran telur, mengikat zona pelusida, dan menyatu dengan oolemma. Meskipun peristiwa pemupukan yang tidak biasa tercatat terjadi pada tikus ini adalah efek sekunder dari kelainan bentuk kepala sperma, terbukti bahwa nektin-2 memainkan peran penting dalam spermiogenesis, khususnya dalam organisasi sitoskeletal dan reorganisasi pada spesialisasi ektoplasmik apikal.
3.2.2 Protein IgSF Dinyatakan pada Sel Kuman
  Banyak protein IgSF dikaitkan dengan sel germinal. IgSF4: IgSF4 adalah molekul adhesi sel dan sebelumnya dikenal sebagai molekul target kandidat untuk gen penekan tumor yang terkait dengan hilangnya heterosigositas.
pada kromosom 11q23.2. IgSF4 identik dengan RA175, Sg-IGSF, TSLC1, SynCAM1, dan Necl-2, yang membentuk sekelompok molekul adhesi sel (CADM). RA175 sangat diekspresikan selama diferensiasi neuronal sel karsinoma embrio. Sg-IGSF diekspresikan pada sel spermatogenik awal. TSLC1 adalah molekul penekan tumor yang berfungsi melawan kanker paru-paru sel non-kecil pada manusia. SynCAM1 adalah molekul adhesi sinaptik khusus otak yang menstimulasi adhesi sel-sel homophilic Ca2 +. SgIGSF dan TSLC1 diekspresikan secara luas, dan ekspresi mereka telah divisualisasikan dengan blotting utara. IgSF4 / Necl-2 diperkirakan mengandung domain Ig tipe V dan C2 serta urutan sinyal hidrofobik, wilayah transmembran tunggal, dan domain sitoplasmik. Ly9 / CD150 diekspresikan pada tingkat mRNA di testis. Nektin-3 terlokalisasi di wilayah kepala spermatid yang menghadapi spesialisasi ektoplasmik apikal. Protein dari keluarga nektin memainkan peran dalam organisasi berbagai sambungan sel-sel seperti persimpangan yang melekat dan persimpangan ketat dalam sel epitel dan sambungan sinaptik di neuron. Jalur proliferasi-sinyal dari molekul-molekul ini baru-baru ini diidentifikasi dalam banyak jenis jaringan. N ext, saya akan menjelaskan temuan khas pada tikus jantan yang membawa delesi untuk gen JAM-C dan RA175.
JAM-C: JAM-C terdiri dari dua domain Ig ekstraseluler, wilayah transmembran tunggal, dan domain sitoplasma pendek; domain Ig ekstraseluler mengandung 1 domain tipe VH dan 1 domain tipe C2, dan lipatan C2 mengandung dua residu sistein ekstra dan situs N-glikosilasi potensial. JAM-C terlibat dalam perakitan persimpangan ketat di sel-sel endotel dan epitel. Dalam testis, JAM-C diekspresikan dalam spermatid bulat dan memanjang (Gliki et al. 2004). Di daerah kepala yang baru lahir spermatid memanjang, ekspresinya terbatas pada plak junctional. JAM-C mengubah struktur adhesi spermatozoa dengan mempolarisasi lokalisasi PAR-3 dan spermatid penahan ke sel Sertoli. Ketika gen JAM-C dihapus, spermatid mutan ditemukan kekurangan struktur akrosom dan menjadi rusak dalam polarisasi struktur adhesi; ini akhirnya mengarah pada produksi spermatozoa dengan inti bulat. Ini spermatids bulat-nukleasi gagal untuk berdiferensiasi menjadi spermatid memanjang, dan disfungsi ini menyebabkan teratozoospermia, ditandai dengan spermatozoa dengan kepala cacat. RA175: RA175 adalah protein dari keluarga nektin dan identik dengan Necl-2. Semua nektin dianalisis sejauh ini telah ditemukan untuk mengasosiasikan dengan sitoskeleton aktin seperti melalui afadin, protein pengikat F-aktin dan nektin. RA175 - / - tikus jantan mengembangkan oligoteratozoospermia yang parah, dan produksi sperma mereka berkurang secara dramatis (Fujita et al. 2006). Menariknya, spermatogenesis berlangsung lebih normal pada tikus yang defisiensi RA175 sampai tahap putaran spermatid awal, tetapi ketika spermatid mencapai tahap elongasi, mereka mulai melepaskan diri dari sel Sertoli. Akibatnya, sangat sedikit spermatozoa mencapai tahap spermiation, dan bahkan mereka yang menunjukkan kelainan morfologi di kepala dan ekor. Agaknya, transduksi sinyal yang diperlukan untuk asosiasi nektin dengan aktin melalui afadin pada spesialisasi ektoplasmik apikal tidak diinduksi pada RA175 - / - tikus jantan, karena RA175 dilaporkan berinteraksi dengan nektin-3 (Takai et al. 2003).

Jumat, 08 Juli 2016

4 negeri yang dianjurkan dihuni diakhir jaman



Inilah 4 Negeri yang Dianjurkan Dihuni di Akhir Zaman
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrC_j8TOcoCV7ga7TCqgPj3qxJTe1oogqIwACob-bAStsloGwyJxqktrRrZeDjbTEc3gBTTcEuNkabJ8eUbvBXt4u9npbh7Q5XtYyJKUGs6TBEOvK4lx7UB0E-BXw7H2BlW_c-6FaKccgH/s640/Screenshot_1.png

Pada akhir zaman menjelang hari kiamat akan terjadi huru hara besar. Di antaranya adalah munculnya Dajjal.

Ada empat negeri yang telah didoakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan dua di antaranya tidak akan bisa dimasuki Dajjal dan satu lainnya akan menjadi tempat dibunuhnya Dajjal. Empat negeri tersebut merupakan negeri-negeri yang dianjurkan untuk dihuni di akhir zaman.

Makkah
Makkah dinyatakan Rasulullah sebagai sebaik-baik bumi. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

"Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik bumi dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (dari Makkah)" (HR. Tirmidzi; shahih)

Ketika Dajjal muncul dan membuat kerusakan di mana-mana, Makkah merupakan negeri yang tidak bisa dimasuki oleh Dajjal.

Dalam hadits Fathimah bin Qais radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Dajjal mengatakan,

فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِى الأَرْضِ فَلاَ أَدَعَ قَرْيَةً إِلاَّ هَبَطْتُهَا فِى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَىَّ كِلْتَاهُمَا كُلَّمَا أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ وَاحِدَةً أَوْ وَاحِدًا مِنْهُمَا اسْتَقْبَلَنِى مَلَكٌ بِيَدِهِ السَّيْفُ صَلْتًا يَصُدُّنِى عَنْهَا وَإِنَّ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلاَئِكَةً يَحْرُسُونَهَا

“Aku akan keluar dan menelusuri muka bumi. Tidaklah aku membiarkan suatu daerah kecuali pasti aku singgahi dalam masa empat puluh malam kecuali Makkah dan Thoybah (Madinah). Kedua kota tersebut diharamkan bagiku. Tatkala aku ingin memasuki salah satu dari dua kota tersebut, malaikat menemuiku dan menghadangku dengan pedangnya yang mengkilap. Dan di setiap jalan bukit ada malaikat yang menjaganya.” (HR. Muslim)

Madinah
Madinah adalah kota iman. Sebagaimana Makkah, Madinah juga tidak bisa dimasuki oleh Dajjal

إنَّ الإِيْماَنَ لَيَأْزِرُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ كَمَا تأْزِرُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya iman akan kembali ke kota Madinah sebagaimana ular kembali ke lubang atau sarangnya” (HR. Bukhâri dan Muslim)

عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ مَلائِكَةٌ لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ وَلاَ الدَّجَّالُ

“Di setiap tembok atau batas kota Madinah ada malaikat. Kota Madinah tidak akan bisa dimasuki oleh penyakit thâ'ûn (lepra) tidak pula Dajjâl” (HR. Bukhâri dan Muslim)

Yaman
Rasulullah mendoakan Yaman agar menjadi negeri yang diberkahi. Yaman juga identik dengan iman, ilmu dan hikmah.

أتاكم أهل اليمن, هم أرقّ قلوبا, الإيمان يمان و الفقه يمان و الحكمة يمانية.

“Penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian. Mereka adalah orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada Yaman, Fiqih ada pada Yaman, dan hikmah ada pada Yaman.” (HR. Ahmad; shahih)

سيصير الأمر إلى أن تكونوا جنودا مجندة جند بالشام و جند باليمن و جند بالعراق عليك بالشام فإنها خيرة الله من أرضه يجتبي إليها خيرته من عباده فإن أبيتم فعليكم يمنكم و اسقوا من غدركم فإن الله قد توكل لي بالشام و أهله

“Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Hendaklah kalian memilih Syam. Karena ia adalah negeri pilihan Allah. Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya. Jika tak bisa, hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya). Karena Allah menjamin untukku negeri Syam serta penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Hakim, dan Ibnu Hibban)

Syam
Yang keempat adalah negeri Syam. Saat ini, Syam terpecah menjadi Suriah, Palestina, Jordania dan Lebanon. 

اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا قالوا وفي نجدنا قال اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا

“Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Syam kami. Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Yaman kami” (HR. Bukhari)

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Dajjal tidak bisa memasuki Masjid Al Aqsha Palestina yang juga merupakan bagian dari Syam.

لاَ يَأْتِى أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ الْكَعْبَةَ وَمَسْجِدَ الرَّسُولِ والْمَسْجِدَ الأَقْصَى وَالطُّورَ

“Dajjal tidak akan memasuki empat masjid: masjid Ka’bah (masjidil Haram), masjid Rasul (masjid Nabawi), masjid Al Aqsha dan masjid Ath Thur.” (HR. Ahmad; shahih)
Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : [Ibnu K/Tarbiyah]